Laporan fisika dasar 1
Rabu,11 november 2015
I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam fisika, pengukuran
merupakan salah satu syarat yang tidak bleh ditinggalkan. Aktivitas mengukur
menjadi sesuatu yang sangat penting untuk selalu dilakukan dalam mempelajari
berbagain fenomena yang sedang dipelajari. Mengapa demikian ?
Sebelumnya ada baiknya
jika kita mengingat definisi pengukuran atau mengukur itu sendiri. Mengukur
adalah membandingkan suatu besaran dengan besaran lain. Mengukur dapat
dikatakan sebagai usaha untuk mendefinisikan karakteristik suatu permasalahan
secara kuantitatif, dan jika dikaitkan dengan proses penelitian atau sekedar
pembuktian suatu hipotesis maka pengukuran menjadi jalan untuk mencari
data-data yang mendukungnya.
Dengan pengukuran ini
kemudian akan diperoleh data-data numerik yang menunjukan pola-pola tertentu
sebagai bentuk krakteristik dari fenomena atau permasalahan tersebut. Dengan
demikian, maka dapat dihasilkan suatu kesimpulan yang bersifat kualitatif
berdasarkan pola-pola yang dihasilkan oleh data-data kuantitatif tersebut.
Dengan salah satu
argumentasi di atas, sudah dapat kita ketahui betapa penting dan dibutuhkannya
aktivitas pengukuran dalam fisika.
B. Tujuan
Praktikum
Dengan dilakukannya
praktikum ini diharapkan bahwa mahasiswa dapat dengan mudah mempergunakan
beberapa alat untuk mengukur. Dengan tidak hanya mengetahui namanya saja namun
juga mempergunakan dan merepresentasikan data-data yang terukur dalam sebuah
format laporan yang sesuai.
Sebagai satu hasil
keluaran yang dapat dipresentasikan dengan baik merupakan tujuan berikutnya
dimana mahasiswa dapat menentukan volume dan jenis beberapa zat padat. Hingga
akhirnya presentasi format percobaan yang dilakukan dapat dipastikan sesuai
atau bahkan jauh melenceng dari teori yang ada.
II. TINJAUAN
PUSTAKA
Besaran dan Satuan
Besaran dalam fisika
diartikan sebagai sesuatu yang dapat diukur, serta memiliki nilai besaran
(besar) dan satuan. Sedangkan satuan adalah sesuatu yang dapat digunakan
sebagai pembanding dalam pengukuran. Satuan Internasional (SI) merupakan satuan
hasil konferensi para ilmuwan di Paris, yang membahas tentang berat dan ukuran.
Berdasarkan satuannya besaran dibedakan menjadi dua, yaitu besaran pokok dan
besaran turunan. (Setya, 2009)
1. Besaran
Pokok
Besaran Pokok adalah
besaran yang satuannya telah ditetapkan terlebih dahulu dan tidak diturunkan
dari besaran lain. Ada tujuh besaran pokok dalam sistem Satuan Internasional
yaitu Panjang, Massa, Waktu, Suhu, Kuat Arus, Jumlah molekul, Intensitas
Cahaya.
Panjang adalah dimensi
suatu benda yang menyatakan jarak antar ujung. Panjang dapat dibagi menjadi
tinggi, yaitu jarak vertikal, serta lebar, yaitu jarak dari satu sisi ke sisi
yang lain, diukur pada sudut tegak lurus terhadap panjang benda. Dalam ilmu
fisika dan teknik, kata “panjang” biasanya digunakan secara sinonim dengan
“jarak”, dengan simbol “l” atau “L” (singkatan dari bahasa Inggris length).
Massa adalah sifat
fisika dari suatu benda, yang secara umum dapat digunakan untuk mengukur
banyaknya materi yang terdapat dalam suatu benda. Massa merupakan konsep utama
dalam mekanika klasik dan subyek lain yang berhubungan.
Waktu menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses,
perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu
merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama
berlangsungnya suatu kejadian. Tiap masyarakat memilki pandangan yang relatif
berbeda tentang waktu yang mereka jalani. Sebagai contoh: masyarakat Barat
melihat waktu sebagai sebuah garis lurus (linier). Konsep garis lurus tentang
waktu diikuti dengan terbentuknya konsep tentang urutan kejadian. Dengan kata
lain sejarah manusia dilihat sebagai sebuah proses perjalanan dalam sebuah
garis waktu sejak zaman dulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang.
Berbeda dengan masyarakat Barat, masysrakat Hindu melihat waktu sebagai sebuah
siklus yang terus berulang tanpa akhir.
Suhu menunjukkan derajat
panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda
tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu
benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam
bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya
energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut.
Arus listrik adalah
banyaknya muatan listrik yang mengalir tiap satuan waktu. Muatan listrik bisa
mengalir melalui kabel atau penghantar listrik lainnya. Pada zaman dulu, Arus
konvensional didefinisikan sebagai aliran muatan positif, sekalipun kita
sekarang tahu bahwa arus listrik itu dihasilkan dari aliran elektron yang
bermuatan negatif ke arah yang sebaliknya. (Setya, 2009)
2. Besaran
Turunan
Besaran turunan adalah
besaran yang satuannya diturunkan dari besaran pokok atau besaran yang didapat
dari penggabungan besaran-besaran pokok. Contoh besaran turunan adalah Berat,
Luas, Volume, Kecepatan, Percepatan, Massa Jenis, Berat jenis, Gaya, Usaha,
Daya, Tekanan, Energi Kinetik, Energi Potensial, Momentum, Impuls, Momen
inersia, dll. Dalam fisika, selain tujuh besaran pokok yang disebutkan di atas,
lainnya merupakan besaran turunan. Besaran Turunan selengkapnya akan dipelajari
pada masing-masing pokok bahasan dalam pelajaran fisika.
Untuk lebih memperjelas
pengertian besaran turunan, perhatikan beberapa besaran turunan yang satuannya
diturunkan dari satuan besaran pokok berikut ini.
Luas = panjang x lebar
= besaran panjang x besaran panjang
= m x m
= m2
Volume = panjang x lebar x tinggi
= besaran panjang x besaran panjang x besaran Panjang
= m x m x m
= m3
Kecepatan = jarak / waktu
= besaran panjang / besaran waktu
= m / s
Untuk mencapai suatu
tujuan tertentu di dalam fisika, kita biasanya melakukan pengamatan yang
disertai dengan pengukuran. Pengamatan suatu gejala secara umum tidak lengkap
apabila tidak disertai data kuantitatif yang didapat dari hasil pengukuran.
Lord Kelvin, seorang ahli fisika berkata, bila kita dapat mengukur yang sedang
kita bicarakan dan menyatakannya dengan angka-angka, berarti kita mengetahui
apa yang sedang kita bicarakan itu.
3. Jangka
Sorong
Jangka sorong adalah alat ukur yang ketelitiannya dapat mencapai
seperseratus millimeter. Terdiri dari dua bagian, bagian diam dan bagian
bergerak. Pembacaan hasil pengukuran sangat bergantung pada keahlian dan
ketelitian pengguna maupun alat. Sebagian keluaran terbaru sudah dilengkapi
dengan display digital. Pada versi analog, umumnya tingkat ketelitian adalah
0.05 mm untuk jangka sorong dibawah 30 cm dan 0.01 untuk yang di atas 30 cm.
Kegunaan jangka sorong ini adalah:
1. Untuk
mengukur suatu benda dari sisi luar dengan cara diapit
2. Untuntu
mengukur sisi dalam suatu benda yang biasanya berupa lubang (pada pipa, maupun
lainnya) dengan cara diukur.
3. Untuk
mengukur kedalaman celah/lubang pada suatu benda dengan cara
“menancapkan/menusukkan” bagian pengukur tidak terlihat pada gambar karena
berada pada sisi pemegang. (Setya, 2009)
III. PROSEDUR
PERCOBAAN
A. Waktu dan
Tempat
Praktikum Pengukuran
Dasar dilakukan pada hari rabu, tanggal 11 november 2015, berlangsung dari
pukul 09.00 s/d 12.00 WIB di Laboratorium Fisika Dasar Fakutas teknik Jurusan
elektro.
B. Alat dan
Bahan
a. Mistar
besi
g. Gelas ukur
b. Jangka
sorong
h. Wadah silinder
c. Neraca
digital
i. Termometer
d. Stop
watch
j. Pipa
e. Balok
j. Air
f. Gelas
ukur
k.
Kaleng
C. Cara
Kerja
a. Pengukuran
dengan jangka sorong
1. Diambil
sebuah pipa, kemudian ukurlah diameter pipa bagian dalam dan luar pipa
tersebut, lakukan pengulangan sebanyak 3 kali.
2. Diukur
dengan menggunakan mistar besi dan lakukan pengulangan sebanyak 3 kali
3. Dibandingkan
hasil pengukuran dengan menggunakan mistar dan jangka sorong berdasarkan
kesalahan mutlaknya.
b. Pengukuran
dengan menggunakan timbangan
1. Ditentukan
nst timbangan, kemudian
2. Diambilah
sebuah balok, lalu diletakkan pada landasan beban timbangan.
3. Diukurkanlah
berapa massa balok tersebut, pengulangan dilakukan selama 3 kali.
c. Pengukuran
dengan stop watch
1. tentukan
nst stop watch
2. Disetlah
stop watch pada posisi nol, kemudian set posisi jarum pada jam tangan.
3. Disaat
jarum mulai bergerak dari posisi yang telah diset, stopwatch dihidupkan.
Kemudian bandinglah nilai terbaca pada stopwatch dengan lamanya waktu yang
telah diset pada jam tangan selama 1 menit. Lakukan pengulangan sebanyak 5
kali.
d. Pengukuran
dengan gelas ukur
1. Dikurkanlah
dimensi kaleng, kemudian masukkan air didalam kaleng tersebut, hitung volume
air dalam kaleng dengan menggunakan rumus volume silinder. Kemudian air yang
sama dimasukkan dengan gelas ukur.
2. Dibandingkanlah
volume air yang ada di kaleng dan gelas ukur. Pengulangan dilakukan sebanyak 3
kali.
IV. HASIL DAN PENGAMATAN
A. Data Hasil
Pengamatan
1. Pengukuran
menggunakn jngka sorong (nst = 0,05 mm)
Table 1. pengukuran diameter luar pipa.
|
No
|
Ulangan
|
Data
(mm)
|
(x - x)
|
(x – x)2
|
|
1
|
X1
|
68
|
2,7
|
7,29
|
|
2
|
X2
|
66
|
0,7
|
0,29
|
|
3
|
X3
|
62
|
-3,3
|
10,89
|
|
n
=
3
|
∑x
|
196
|
∑(x
– x)2=
18,67
|
|
|
x
|
65,3
|
Table 2. pengukuran diameter dalam pipa
|
No
|
Ulangan
|
Data (mm)
|
(x – x)
|
(x
– x)2
|
|
1
|
X1
|
62
|
2,7
|
7,29
|
|
2
|
X2
|
56
|
-3,3
|
10,89
|
|
3
|
X3
|
60
|
0,7
|
0,49
|
|
n = 3
|
∑x
|
178
|
∑(x – x)2=
18,67
|
|
|
x
|
59,3
|
2. Pengukuran
menggunakan mistar besi (nst = 1 mm)
Table 3. pengukuran diameter luar pipa
|
No
|
Ulangan
|
Data (mm)
|
(x – x)
|
(x – x)2
|
|
1
|
X1
|
5,5
|
-0,03
|
0,0009
|
|
2
|
X2
|
5,5
|
-0,03
|
0,0009
|
|
3
|
X3
|
5,6
|
0,07
|
0,0049
|
|
n = 3
|
∑x
|
16,6
|
∑(x – x)2=
0,0067
|
|
|
x
|
5,53
|
Tabel.4. pengukuran diameter dalam pipa
|
No
|
Ulangan
|
Data (mm)
|
(x – x)
|
(x – x)2
|
|
1
|
X1
|
4,7
|
-0,06
|
0,0036
|
|
2
|
X2
|
4,9
|
0,14
|
0,0196
|
|
3
|
X3
|
4,7
|
-0,06
|
0,0036
|
|
n = 3
|
∑x
|
14,3
|
∑(x – x)2=
0,0268
|
|
|
x
|
4,76
|
3. Pengukuran
menggunakan timbangan digital kitchen scale (nst = ~ gram)
Table 4. pengukuran massa balok kayu
|
No
|
Ulangan
|
Data (gram)
|
ket
|
|
1
|
X1
|
90
|
-
|
|
2
|
X2
|
90
|
-
|
|
3
|
X3
|
90
|
-
|
|
n = 3
|
∑x
|
270
|
-
|
|
x
|
90
|
-
|
4. Pengukuran
menggunakan stopwatch (nst= ~ milidetik)
Tabel 6. Pengukuran waktu menggunakan stopwatch
|
No
|
Waktu
|
Ulangan
|
Data (Detik)
|
Ket
|
|
|
Stopwatch
|
Jam
|
||||
|
1
|
1 Menit
|
X1
|
59
|
60
|
-
|
|
2
|
X2
|
60
|
60
|
-
|
|
|
3
|
X3
|
60
|
60
|
-
|
|
5. Pengukuran
menggunakan gelas ukur (nst = 5 ml)
Tabel 7. Pengukuran volume wadah silinder
|
No
|
Ulangan
|
Data (ml)
|
Ket
|
|
1
|
X1
|
265
|
|
|
2
|
X2
|
265
|
|
|
3
|
X3
|
260
|
|
|
n = 3
|
790
|
||
|
x
|
263,3
|
B. Analisis
Data
1. Pengukuran
menggunakan jangka sorong (nst =0,02 mm)
Pengukuran diameter luar
pipa:
Ulangan 1:
Kesalahan mutlak (Δx) = = = =1,10 mm
Kesalahan relatif X1
= Δx/X1
=
= 0,016
Kesalahan persen
X1 =(Δx/X1) x 100% =
(0,0161) x 100% = 1,61%
Kesalahan ketelitian X1 = (1
- Δx/X1) x 100%
=
(1 – 0,0161) x 100%
= 0,9839 x 100 %
= 98,39 %
Ulangan 2:
Kesalahan mutlak
: (Δx) = hasilnya
= 0,285
Kesalahan
relatif :
��2 = Δx/��2
hasilnya =
0,004%
Kesalahan persen
: ��2 = (Δx/��2 ) x
100%
hasilnya
= 99,6%
Kesalahan ketelitian :
��2 = (1 - Δx/��2 ) x
100% hasilnya
= 0,4%
Ulangan 3 :
Kesalahan mutlak
: (Δx) =
hasilnya = 1,34
Kesalahan relatif :
��3 = Δx/��3
hasilnya
= 0,02
Kesalahan persen :
��3 = (��3) x
100%
hasilnya = 2 %
Kesalahan ketelitian
: ��3 = (1 - Δx/��3) x
100%
hasilnya = 98%
Hasil pengukuran xx + Δx = 68 mm +
1,10 mm = 69,1 mm
Pengukuran dalam diameter pipa :
Kesalahan
mutlak (Δx) = = = = = = 1,10 mm
Lesalahan relatif
��1 = = = 0,017
Kesalahan persen
��1 = x 100 % = 0,017 x
100% = 1,7
Kesalahan ketelitian
��1 = 1- x 100% = 1 - 0,017
x 100% = 0,983 x 100% = 98,3%
Ulangan 2 :
Kesalahan mutlak (Δx) =
hasilnya = 1,34 mm
Kesalahan
relatif ��2 = Δx/ ��2
hasilnya = 0,023 mm
Kesalahan
persen ��2 = (Δx/ ��2) x
100%
hasilnya = 2,3%
Kesalahan ketelitian ��2 = (1 - Δx/ ��2) x
100% hasilnya
= 97,7%
Ulangan 3 :
Kesalahan mutlak (Δx) =
hasilnya = 0,81mm
Kesalahan relative ��3 =
Δx/ ��3
hasilnya = 0,0135 mm
Kesalahan persen ��3 = (Δx/ ��3) x
100%
hasilnya = 135%
Kesalahan ketelitian ��3 = (1 - Δx/ ��3) x 100%
Hasilnya = 98,65%
Hasil pengukuran xx + Δx = 62 mm +
1,10mm = 63,1 mm.
2. Pengukuran
menggunakan mistar besi (nst = 1 mm)
Pengukuran diameter luar pipa:
Ulangan 1
Kesalahan mutlak (Δx) = = = = =
= 0,012 mm
Kesalahn relatif ��1 =
Δx/ ��1 = = 0,002 mm
Kesalahan persen ��1 = (Δx/��2) x 100% = 0,002 x 100%
= 0,2%
Kesalahn ketelitian
= (1 - Δx/��2) x 100% = (1 – 0,002) x 100%
= 0,998 x 100% = 99,8%
Ulangan 2
Kesalahan mutlak (Δx) =
hasilnya = 0,012 mm
Kesalahn relatif
��2 = Δx/ ��2 hasilnya = 0,002 mm
Kesalahan persen ��2 = (Δx/��2) x 100%
hasilnya = 0,2 %
Kesalahn ketelitian ��2 = (1 - Δx/��2) x 100%
hasilnya
=99,8 %
Ulangan 3
Kesalahan mutlak (Δx) =
hasilnya = 0,09 mm
Kesalahn relatif
��3 = Δx/ ��3 hasilnya = 0,0160 mm
Kesalahan persen ��3 = (Δx/��3) x 100%
hasilnya = 1,60%
Kesalahn ketelitian ��3 = (1 - Δx/��3) x
100%
hasilnya =
98,4%
Hasil pengukuran xx + Δx = mm + 0,012 mm
= 5,512 mm
Pengukuran diameter
dalam pipa:
Ulangan 1
Kesalahan mutlak (Δx) = = = = =
= 0,024 mm
Kesalahn relatif ��1 =
Δx/ ��1 = = 0,00521 mm
Kesalahan persen ��1
= (Δx/��1) x 100% = 0,00521 x 100% = 0,520%
Kesalahn ketelitian ��1 = (1 - Δx/��1) x 100% = (1 – 0,9947)
x 100% = 99,47%
Ulangan 2
Kesalahan mutlak (Δx) =
hasilnya = 0,057 mm
Kesalahn relatif ��2 =
Δx/ ��2 hasilnya = 0,0116 mm
Kesalahan persen ��2 = (Δx/��2) x
100% hasilnya
= 1,16%
Kesalahn ketelitian ��2 = (1 - Δx/��2) x 100%
hasilnya
= 98,84%
Ulangan 3
Kesalahan mutlak (Δx) =
hasilnya = 0,024 mm
Kesalahn relatif ��3 =
Δx/ ��3 hasilnya = 0,00521 mm
Kesalahan persen ��3 = (Δx/��3) x
100% hasilnya
= 0,52%
Kesalahn ketelitian ��3 = (1 - Δx/��3) x 100%
hasilnya
= 99,47%
Hasil pengukuran xx + Δx = 4,7 mm +
0,024mm = 4,724 mm.
3. Pengukuran
menggunakan gelas ukur (nst = 5 ml)
1. Pengukuran
volume kaleng menggunakan gelas ukur
Ulangan 1 = 198 ml
Ulangan 2 = 196 ml
Ulangan 3 = 205 ml
2. Pengukuran
volume kaleng menggunakan jangka sorong
Dik : Diameter alas (D) = 5,24 cm
Jari-jari alas (r) = ½ (diameter alas) = ½ (5,24) =
2,62 cm
Tinggi silinder (t) = 9,61 cm.
Dit : Volume……………?
Jawab
Volume silinder =
Volume = 3,14 x (2,62)2 x
9.61
Volume = 3,14 x 6,86 x 9,61
Volume = 207,13 ml.
C. pembahasan
setiap pengukuran dapat memiliki kesalahan yang berbeda-beda, tergantung kepada
keadaan alat ukur, perbedaan tingkat ketelitian alat ukur, metode yang
digunakan dalam mengukur, dan kemampuan orang yang mengukurnya. Pada saat melakukan
pengukuran menggunakan jangka sorong, baik pengukuran diameter luar maupun
diameter dalam, terdapat kesalahan-kesalahan tertentu yang dilakukan oleh
praktikum. Misalnya, kesalahan dalam melihat angka yang berimpit pada skala
nonius. Pada pengukuran diameter dalam pipa tepatnya saat ulangan kedua,
terdapat beberapa angka pada sekala nonius, pada angka 4, 8, 6, dan 9. Ini
menunjukkan bahwa kemampuan baca sekala yang dimiliki oleh praktikan masih
kurang. Ini mungkin disebabkan kesalahan paralaks oleh praktikan sehingga tidak
dapat melihat skala yang benar-benar berimpit. Kesalahan lainnya juga masih
ada, seperti kesalahan praktikan yang tidak mengkonversikan satuan skala nonius
dari millimeter ke centimeter.
Kesalahan dalam menggunakan mistar besi adalah keterbatasan keterampilan
pengamatan oleh praktikan serta ditak menggunkan titik ukur dari nol. Praktikan
yang menghitung diameter dalam pipa dari angka nol mendapati hasil yang sama,
yaitu pada ulangan 1 dan ulangan 3. Dengan skala yang menunjukan pada angka 28.
Sedangkan praktikan yang lain tidak menghitung dari angka nol dan mendaptkan
hasil pengukuran 28 cm. ini menunjukkan bahwa dalam pengukuran ini terdapat
kesalahan paralaks dan kesalahan penempatan angka nol. Terdapat beberapa
millimeter perbedaan hasil pengukuran menggunakan mistar dan jangka sorong,
disebabkan tingkat ketelitian atau ketidak pastiannya berbeda-beda. Jangka
sorong memiliki tingkat ketelitian 0,005 cm, sedangkan mistar memilikitingkat
ketelitian 0,05 cm. jadi, jangka sorong memiliki tingkat ketepatan lebih tinggi
dibandingkan mistar.
Dalam kehidupan sehari-hari, massa sering diartikan sebagai berat, tetapi dalam
tinjauan fisika kedua besaran tersebut berbeda. Massa tidak di pengaruhi
gravitasi, sedangkan berat dipengaruhi oleh gravitasi. Fungsi dari neraca
elektrik maupun bukan elektrik secara umum adalah sebagai alat pengukur massa.
Kegunaan neraca ini tergantung dari neraca tersebut missal neraca /timbangan
elektrik yang ada di pasar swalayan dengan yang dilaboratorium tentu
sensitivitas dan skala neracanya jauh berbeda. Secara umum proses menimbang
dengan neraca elektronik/digital adalah pastikan bahwa timbangan sudah menyala,
pastikan timbangan menunjukkan angka “nol” (jika tidak perlu dikoreksi),
letakkan benda yang massanya akan diukur pada piringan tempat benda, baca skala
yang tertera pada display digital sesuai skala satuan timbangan tersebut, untuk
pengukuran sensitivitasnya tinggi perlu menunggu 30 menit, karena hanya dapat
bekerja pada batas temperature yang di tetpkan, dan Nst dari neraca adalah 0,01
gram.
Alat ukur waktu yang sering digunakan dalam percobaan fisika adalah stopwatch.
Dengan stopwatch digital, praktikum langsung dapat membaca selang waktu yang
diukur pada layar stopwatch. Pda saat membandingkan hasil pengukuran dari
stopwatch dengan jam tangan, terdapat beberapa sekon perbedaan keduaanya.
Tingkat ketidakpastiaan stopwatch lebih rendah dibandingkan jam tangan, dimana
stopwatch memiliki skala ketidakpastiaan 0,05 sekon. Jadi, pengukuran dengan
menggunkn stopwatch dapat memperkecil tingkat kesalahan dalam pengukuran waktu.
Gelas ukur berfungsi untuk mengukur volume larutan. Gelas ukur digunanakan
untuk volume dari 10 hingga 2000 ml.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Mengukur
dapat dikatakan sebagai usaha untuk mendefinisikan karakteristik suatu
permasalahan secara kuantitatif.
2. Pengukuran
harus dilakukan dengan kecermatan yang tinggi dan dilakukan dengan alat yang
sesuai agar hasil pengukuran meminimalisirkan kesalahan.
3. Hasil
Pengukuran harus dituangkan dalam bentuk tabel dengan baik agar tidak perlu
dilakukan pengukuran ulang yang mengaibatkan lamanya proses perhitungan data
kembali.
4. Percobaan
pada (Jangka sorong) diameter dalam pipa, Kesalahan mutlaknya X11,10mm.
Namun pada kesalahan relatif X1 adalah 0,017mm, kesalahan
persen X1adalah 1,7%, dan kesalahan ketelitiannya X1 adalah
98,3%.
5. Percobaan
pada (Mistar besi) diameter dalam pipa,kesalahan mutlak X1 0,024mm,
kesalahan relatifnya X1 adalah 0,00521mm, kesalahan persennya X1 adalah
0,520% dan kesalahan ketelitiannya 99,47%.
B. Saran
1. Asisten
sudikiranya lebih detail lagi menjelaskan tentang alat-alat yang digunakan
untuk kegiatan praktikum.
2. Semoga
kedepannya praktikum lebih memperhatikan asisten yang lagi menerangkan.
3. Semoga
kedepannya praktikum dilakukan dilaboratorium sendiri yaitu dilaboratorium
fisika.
DAFTAR PUSTAKA
1. Nurachmandani,
Setya, Fisika 1 Untuk SMA/MA Kelas X, Jakarta 2009, Pusat Perbukuan Departemen
Pendidikan Nasional.
2.Buku Penuntun Praktikum Fisika Dasar, Laboratorium Fisika ,Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Pakuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar